....begitulah kira-kira sebuah kalimat yang pernah saya baca dalam salah satu koleksi novel saya (yang kebetulan saya lupa,
which one?) yang jelas, kata-kata itu bukan 100% ide dari saya. entah bisa disebut sebagai
Paraphrasing atau tidak, karena saya tidak menyebutkan sumbernya, namun yang jelas saya nyatakan disini bahwa kalimat tersebut saya kutip dari sebuah buku yang sayangnya saya lupa sama sekali judul dan pengarangnya.
Namun mengapa saya bisa sedemikian hafalnya dengan kalimat tersebut?
Ya, saya kembali merasa bahwa time flies dengan sangat cepatnya dan bahkan tanpa kita sadari. Benar-benar nggak kerasa kalau semester 2 pun sudah hampir berakhir. Setelah itu saya jadi mahasiswa tahun kedua. masuk semester 3. punya adik angkatan. dan sebagainya dan sebagainya. ya, intinya akan semakin banyak kegiatan dan pastinya akan semakin banyak tanggung jawab yang harus dikerjakan.
Pertanyaan standar. How's life? hmmm, Life is pretty good so far. Tidak begitu banyak perubahan signifikan. Mungkin kulit tambah gosong mengingat matahari Jogja yang sangat aduhai panasnya di siang hari, lalu rambut yang tambah panjang karena tak kunjung dipangkas. oke oke mungkin simbah-simbah di pasar Kranggan juga tahu. atau bisa juga tidak (dan pastinya tidak, oke cukup). Tapi semangat kuliah sedang drop se drop-dropnya.
Entah mengapa, saya merasa di semester 2 ini jadwal kuliah jadi lebih random. Ada satu hari dimana kelas saya dimulai pukul 15.00 - dan itu benar-benar meretakkan semangat kuliah. Bukan hanya retak bahkan. Kalau semangat itu diibaratkan sebagai kaleng, mungkin kaleng itu sudah penyok - atau bahkan sudah rata dengan tanah. Ya karena jadwal super aneh itulah mungkin membuat 'hawa' kuliah di semester 2 ini jadi lebih malesin - kalau saya biasa bilang.
oke apa hubungannya dengan menulis? Ya, jadi selain malesin, di semester 2 ini juga lebih sering mendapat tugas. Dan sebagai mahasiswa di jurusan Antropologi, hampir dapat dipastikan bahwa tugas adalah Tulisan. Paper ini paper itu, review ini review itu, artikel ini artikel itu, dan sebagainya dan sebagainya. Disinilah memang kemampuan menulis seseorang diuji.
Dulu waktu SD (kira-kira sampai kelas 3), saya percaya bahwa menulis itu merupakan anugerah dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Bahwa hanya anak-anak cerdas berbakat yang bisa menulis dan saya - sebagai satu dari sekian banyak golongan anak tidak berbakat menulis - hanya bisa gigit jari dan terkagum-kagum melihat beberapa teman yang tergolong 'anak cerdas' menulis cerita tentang liburan ke puncak atau piknik ke Kebun Raya Bogor dengan indahnya. Namun justru karena itu saya jadi sering latihan menulis, membuat tulisan yang bahkan tidak jelas arti dan maksudnya. Lebih parah, terkadang kalimat satu dan kalimat dua bisa berbeda jauh sehingga kalau dibaca kira-kira seperti ini: "suatu siang, Ani membeli es krim. Sepatu Ani yang berwarna merah itu hadiah dari Ibu". yaaa mungkin nggak gini-gini amat, tapi intinya ya nggak nyambung! Tapi terus saya menulis terus terus terus sehingga akhirnya saya sempat memenangkan lomba menulis ilmiah waktu SMP kelas 2, walaupun hanya lomba antar kelas saja.
Sejak itu saya percaya bahwa menulis itu bukanlah sebuah anugerah dari Tuhan kepada anak-anak cerdas berbakat. Menulis itu kemampuan yang ada dalam diri SETIAP manusia dengan catatan: mereka sadar mereka punya kemampuan itu dan mau mencoba menulis setiap hari. Mau mencoba mengasah kemampuan menulis, menuangkan pikiran kritis dalam kepala dan ucapan kedalam untaian kata-kata yang seharmonis mungkin sehingga terkumpul menjadi kalimat-kalimat yang akhirnya membentuk sebuah paragraf. Dari paragraf kemudian menjadi sebuah artikel (atau mungkin cerita). Sukur-sukur cukup panjang dan layar untuk dijadikan sebuah buku.
Dimulai dari menulis yang kamu tahu. Menulis apapun, entah cerita fiksi, atau cerita tentang pengalaman atau kejadian yang dialami sehari-hari. Apapun itu, tulislah. Karena dengan menulis kita - secara tidak kita sadari - belajar untuk menyampaikan sesuatu dalam pikiran kita kedalam bentuk tulisan, which is NOT easy. Tidak mudah lho, untuk menyampaikan pikiran kita kedalam tulisan, karena pasti ada yang terlewat atau tidak terumuskan dengan baik.
Dan saya juga bukanlah seseorang yang ahli dalam menulis. Saya masih belajar untuk menulis dan mencoba untuk lebih sering lagi menulis. menulis menulis menulis dan menulis. Ayo kita semua mulai mengasah kemampuan kita untuk menulis, karena pada dasarnya kita semua punya kemampuan itu. Hanya tidak semua orang cukup menyadari hal tersebut dan mengasahnya. Selamat menulis kawan!
(Tulisan ini dibuat dalam rangka selingan disaat sedang mengerjakan tugas menulis proposal penelitian)